Sabtu, 25 April 2009

Spiritualitas Dalam UNCCC

Oleh : Mudhofir Abdullah
Dosen STAIN Surakarta, Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bumi yang kita huni, keadaannya, meminjam Seyyed Hossein Nasr (1968), kini sangat terluka dan berdarah-darah. Peradaban industrial selama berabad-abad telah menyebabkan bumi menjadi anak yatim yang terlantar. Ia kini kian rusak oleh pandangan sekuler dan hedonistik manusia tentang alam yang terus mengkhutbahi untuk mengeksploitasinya. Perubahan-perubahan iklim pun terjadi begitu cepat dan tak terkendali yang menyebabkan bumi tak ramah lagi pada penghuninya. Tak heran jika bencana-bencana kerap datang mengancam.
Bumi yang sedang kritis inilah yang menjadi tema pokok perbincangan dalam Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim (UNCCC atau United Nation Climate Change Conference) di Nusa Dua Bali yang dijadwalkan berakhir hari ini. Acara ini dihadiri setidaknya 10 ribu peserta (termasuk para pemantau lingkungan) dari 185 negara. Kehadiran mereka di Bali sangat menentukan detik-detik yang sangat penting bagi masa depan kelangansungan bumi dengan keseluruhan eksosistem yang menghuninya.
Peristiwa profetikHajatan akbar ini, sungguh, merupakan peristiwa agung dan profetik yang merefleksikan kepedulian global, terlepas dari sekat-sekat agama, bangsa, bahasa, dan ras. Perbedaan itu disatukan oleh kepentingan bersama untuk masa depan kelangsungan kehidupan di muka bumi yang kian tua renta ini. Tak ada pilihan lain bagi manusia selain melakukan tindakan preventif untuk menghentikan atau memperlambat perubahan iklim yang terus berlangsung. Kesadaran bersama ini hendak mencari konsensus-konsensus baru tentang respons dan tindakan yang harus dilakukan terhadap nasib bumi yang merupakan pusaka bersama.
Konferensi Perubahan Iklim ini merefleksikan sebuah kesadaran profetik. Artinya, ia didorong bukan saja oleh kondisi objektif bumi yang kian kritis, tetapi juga didorong oleh naluri kenabian yang tergali dari renungan-renungan spiritual. Mereka tidak egois untuk menghabiskan sumber-sumber kehidupan bumi hari ini, tetapi berpikir untuk kelangsungan generasi yang akan datang. Mereka memikirkan akibat-akibat kerusakan bumi bila pandangan-pandangan sekuler mereka tetap dipertahankan. Di sini, tampaknya, manusia masih memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan-pilihan moralnya. Ini adalah sebuah anugerah Tuhan yang terbesar dan tak pernah dimiliki makhluk lainnya.
Krisis bumi yang kian parah dengan gejala-gejalanya yang telah menimpa banyak korban, telah mendorong manusia untuk melihat ke dalam. Melihat ke kesadaran Ilahiah yang dengannya pilihan-pilihan moral terdorong untuk berharmoni dengan alam. Kearifan lokal, kearifan spiritual, dan kearifan agama tengah dicari lagi untuk keperluan menopang pandangan sakral terhadap alam itu. Khazanah kearifan yang dimiliki banyak agama dan budaya dianggap mampu menopang tugas-tugas profetik untuk merawat bumi dan mengerem perubahan iklim yang ekstrem. Khazanah ini harus digali dan di saat yang sama menjadi paradigma baru manusia dalam memperlakukan bumi serta alam.
Ini perlu menjadi kesadaran bersama karena menurut Mary Evelyn Tucker (1994) tidak ada satu tradisi agama atau perspektif folosofis pun yang mempunyai solusi ideal bagi krisis-krisis lingkungan. Menyadari hal ini, UNCCC di Bali mengisyaratkan kehendak tersebut. Mereka bahu-membahu menemukan konsep-konsep utama untuk menyelamatkan bumi dari krisis-krisis sistematik yang berkelanjutan. Mereka sejenak melupakan konflik dan perbedaan demi merengkuh tujuan jangka panjang bersama.
Bumi adalah pusaka bersama. Tempat manusia lahir, hidup, dan mati. Sebagai pusaka bersama umat manusia, tak seorang pun berhak memilikinya dalam arti mutlak. Manusia hanyalah entitas yang hanya dipinjami untuk memanfaatkan dan mengelolannya. Karena itu, setiap pemanfaatan bumi di pundaknya melekat tanggung jawab perawatannya. Kata 'pusaka bersama' juga mensyaratkan manusia berpikir global dan bertindak lokal. Apa yang diperbuatnya harus dipertimbangkan apakah ia memiliki dampak-dampak buruk bagi yang lain. Tindakan hari ini harus memerhatikan akibat-akibat di kemudian hari, yakni bagi kelangsungan generasi yang akan datang. Jelas bahwa pertimbangan-pertimbangan semacam ini adalah suatu pilihan moral amat agung. Kita diajarkan kearifan-kearifan tinggi dari semangat moral sebagaimana tercermin dari 'jiwa spiritual' UNCCC itu.
Bersikap arif terhadap bumi bukan berarti membiarkan ia tak berguna. Meng-arifi bumi terkandung pesan memanfaatkan dengan penuh tanggung jawab merawatnya. Artinya, kita menempatkan posisi manusia secara harmonis dengan alam. Juga mengharuskan manusia mengembangkan penglihatan holistik, meninjau isi alam dalam hubungan saling keterkaitan antara komponen lingkungan dan komponen lainnya. Wawasan interdependensi ini perlu dikembangkan sebagai prakondisi bagi pendekatan pembangunan berwawasan lingkungan.
Menyembuhkan lukaPerubahan paradigma tentang alam diharapkan berdampak pada perubahan cara memperlakukan bumi. Krisis bumi adalah artikulasi dari krisis spiritual. Maka tugas awal dari UNCCC di Bali adalah menyebarkan informasi hasil-hasil keputusannya ke seluas-luasnya masyarakat agar benar-benar mengendap dalam pikiran dan persepsi publik global. Bila perlu dilekatkan dalam setiap doktrin ajaran agama, kepercayaan, dan spiritualitas yang dimiliki bangsa-bangsa. Ini penting karena undang-undang dan hukum sekuler dianggap tidak memadahi lagi untuk memproteksi bumi dari pandangan-pandangan sekuler yang memisahkan alam dari status sakralnya.
Kearifan para pemimpin dunia juga punya peranan sangat penting. Mereka adalah sosok-sosok yang bisa mengubah dunia karena punya kekuatan sumber daya-sumber daya politik dan ekonomi untuk itu. Para aktor dunia ini harus menjadi variabel dalam aksi global penyelamatan bumi. Sejarah bangsa-bangsa, baik yang sudah punah maupun yang masih bertahan, seringkali terkait dengan keputusan seorang pemimpin. Para pemimpin adalah sekelompok elite yang keputusan-keputusannya mempengaruhi perubahan-perubahan dunia, positif maupun destruktif.
Karena itu, Barat, terutama Amerika Serikat, harus mematuhi Protokol Kyoto. Selama ini, AS menolak Protokol Kyoto bersama Australia dari negara maju karena alasan politik dan ekonomi dalam negeri. Keputusan politik AS dan Australia sebagai negara besar tentang konservasi bumi akan sangat mempengaruhi percepatan implementasinya. Australia, di pihak lain, menebarkan kepak-kepak sayap harapan dengan kemenangan Kevin Rudd sebagai Perdana Menteri Baru bagi program konservasi ini. Kevin Rudd menang di antaranya karena mengangkat isu-isu lingkungan dan begitu terpilih dia memang kemudian meratifikasi Protokol Kyoto.
Respons masyarakat dunia tentang perubahan iklim yang kian mengerikan mengharuskan matra-matra politik, ekonomi, agama, dan spiritualitas bersinergi. Kombinasi matra-matra itu akan kian ampuh dalam memproteksi bumi yang sedang sakit parah ini. Harapan untuk sembuh dari luka bumi pun kian menemukan maknanya kembali dengan getar-getar spiritualitas dalam UNCCC itu.
Ikhtisar
- Konferensi tentang Perubahan Iklim di Bali menjadi salah satu bentuk kesadaran profetik manusia sebagai khalifah di muka bumi.- Selain mendayagunakan, manusia juga memiliki tanggung jawab untuk merawat kelestarian dan keseimbangan alam.- Usai konferensi tersebut diharapkan muncul kesadaran baru umat manusia untuk menjaga bumi.
Sumber: Republika Online

Krisis Spiritual Tragedi Situ Gintung

Oleh: Mudhofir Abdullah

Tsunami kecil yang terjadi di pagi buta, Situ Gintung Tangerang menewaskan banyak korban. Tragedi itu mengagetkan dan menyentak tanda tanya kita. Mengapa tanggul di tengah kepadatan penduduk itu jebol dan tidak ada peringatan dini? Mengapa korbannya begitu besar? Siapa yang bertanggung jawab? Pertanyaan ini bukan mencari kambing hitam, tapi ingin mencari tahu mengapa 'tanda-tanda zaman' jebolnya tanggul tidak terdeteksi oleh para pejabat di wilayah itu atau oleh otoritas yang bertanggung jawab.Keberadaan tanggul yang posisinya lebih tinggi dari perkampungan padat adalah sebuah 'ancaman bahaya' yang kasat mata. Ia merupakan bom waktu yang kapan saja bisa menjadi 'malaikat maut' bila diabaikan atau tidak memperoleh perhatian penjagaannya. Apalagi, sudah diketahui sebelumnya bahwa tanggul Situ Gintung itu ada retakan dan pernah diperbaiki.Sikap abai atau sikap meremehkan masalah lingkungan adalah sebuah bencana. Sikap semacam ini memperlihatkan sifat manusia yang merendahkan alam. Merendahkan ciptaan Allah (alam) yang seharusnya disyukuri sebagai mitra kehidupan adalah cermin dari kesombongan manusia yang lebih berorientasi kepada kepentingan diri manusia. Lingkungan alam adalah ayat-ayat (pertanda) Allah yang harus dibaca dan bukan untuk dieksploitasi. Membaca ayat-ayat alam berarti merawat dan menghormatinya seperti merawat dan menghormati diri kita.Bencana Situ Gintung adalah akibat kelalaian kita dalam memperlakukan lingkungan alam itu. Kita tidak bersyukur pada kebaikan-kebaikan lingkungan yang diberikan Allah, tapi malah bersikap kufur atau cover (tertutup) untuk memerhatikannya. Jebolnya Situ Gintung adalah respons alam pada sikap kita yang tak lagi peduli dan bersyukur. Kitab suci agama-agama besar dunia, termasuk Alqur'an, telah memberi peringatan agar memperlakukan alam dengan baik sebagai cara kita bersyukur (QS Al-A'raf [7]: 56). Lingkungan alam adalah mitra kita dalam hidup. Karena itu, kita harus mengakrabinya. Hubungan manusia dengan lingkungan alam adalah hubungan etis dan sakral. Itulah sebabnya relasi itu harus membentuk atau meminjam istilah Sachiko Murata 'keakraban yang berani' yang saling menasihati dan mengingatkan.Tragedi Situ Gintung dan bencana-bencana serupa harus dibaca sebagai retaknya relasi sakral dan etis antara manusia dan lingkungannya. Manusia telah menceraikan relasi suci itu dan memilih watak penaklukan atas lingkungan. Lingkungan bumi yang disebut sebagai gaia atau ibu ( mother ) telah dieksploitasi sehingga meninggalkan derita dan luka. Bencana-bencana itu menyimbolkan ketidaktahanan lingkungan atas penderitaan terus-menerus oleh watak penaklukan manusia melalui aktivitas-aktivitas penebangan hutan, perusakan lingkungan, industrialisasi ngawur dan sikap abai yang menyeluruh atas ayat-ayat Allah.Bencana-bencana juga mencerminkan sebuah krisis spiritual. Sebuah krisis yang mengikis ketajaman manusia dalam 'membaca tanda-tanda zaman'. Krisis spiritual mencaplok 'kesadaran' yang oleh Seyyed Hossein Nasr disebut sebagai ciptaan pertama. Kesadaran adalah ciptaan pertama yang menentukan perilaku-perilaku positif-konstruktif manusia terhadap ciptaan lainnya. Krisis spiritual melemahkan kesadaran dan krisis kesadaran melemahkan relasi suci manusia dan lingkungannya. Krisis spiritual menandai sebuah konstruksi yang oleh Marx I Wallace disebut sebagai the wounded spirit (spirit yang terluka). Dalam kondisi terluka, sebuah spirit tak lagi mampu merawat dirinya sendiri, apalagi merawat lingkungannya. Adakah kita termasuk bangsa yang sedang mengidap the wounded spirit ?Istilah kearifan lingkungan sangat relevan untuk kondisi bangsa yang terus dilanda bencana. Kearifan yang berasal dari kata 'arif' (Arab) berarti 'orang yang mengetahui'. Atau, arti bebasnya adalah orang yang pandai membaca tanda-tanda zaman. Dalam konteks lingkungan, kearifan memperlihatkan sebuah sikap spiritual yang reflektif, sadar, dan penuh penghormatan. Sikap semacam ini memperkuat basis-basis tindakan dan sikap konservatif terhadap lingkungan. Kearifan lingkungan meminjam ungkapan tradisi deep ecology adalah cermin dari the ecological wisdom by focusing on deep experience, deep questioning, and deep commitment (kearifan lingkungan yang berbasis pada komitmen, pertanyaan, dan pengalaman yang dalam atas lingkungan).Dalam Alquran, kemampuan membaca tanda-tanda zaman pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf yang menakwilkan mimpi 'tujuh ekor sapi gemuk memakan tujuh ekor sapi kurus dan tujuh pohon anggur rimbun memakan tujuh pohon anggur layu' (QS Yusuf [12]: 43). Nabi Yusuf membacanya sebagai akan datang tujuh tahun masa sulit ( sab'un syidadun ) yang menghabiskan logistik dan sesudah itu akan datang musim baik (hujan). Visi Yusuf ini membekalinya untuk melakukan antisipasi-antisipasi dengan menyiapkan logistik dan segala sesuatunya untuk menghadapi masa sulit itu. Visi inilah yang menyelamatkan Yusuf AS dan kaumnya dari kelaparan dan kesulitan. Kisah Yusuf AS adalah kisah tentang kearifan lingkungan. Sebuah kisah yang menyajikan sikap sadar, spiritual, dan bersyukur atas karunia Allah dalam wujud keakraban yang berani terhadap alam lingkungannya. Visi kearifan lingkungan menghindarkan Nabi Yusuf dari bencana kelaparan dan ini menjadi pelajaran bagi umat-umat sesudahnya.Berlawanan dengan visi Nabi Yusuf AS itu adalah sikap-sikap abai terhadap lingkungan seperti yang diperlihatkan oleh manusia modern ini. Bencana-bencana itu bukan semata-mata karena alam, tetapi juga karena ulah kita yang tak peduli padanya. Kita terus melukai dan membebani kemampuan daya dukung lingkungan tanpa melihat dengan arif akibat-akibatnya. Redupnya daya baca kita atas tanda-tanda zaman (baca: ayat-ayat Allah) membuat makin redupnya manusia sebagai khalifatullah fil ardh . Jika ini terus-menerus berlangsung diidap oleh manusia, makna manusia sebagai 'wakil Tuhan' ( khalifatullah ) menjadi tidak relevan lagi. Kita mempertanyakan lagi posisi 'wakil Tuhan' karena kita tak lagi mampu membuat kebajikan-kebajikan buat lingkungan. Penegasan kembali kearifan lingkungan perlu dilakukan dan kini menemukan momentumnya sehingga lingkungan bumi menjadi tempat berlindung yang bersahabat. Sikap self-realization atau re-earthing (pembumian kembali) perlu dibangun untuk memperkuat topangan-topangan nilai dalam tindakan manusia atas lingkungannya.

Penulis: Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dosen STAIN Surakarta
Tulisan ini dimuat oleh Harian Republika, Senin 30 Maret 2009

Rabu, 22 April 2009

Mencari Pintu Masuk Bagi Dialog Peradaban


Oleh: Mudhofir Abdullah
(Candidate Doctor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Direktur Yayasan Azhary Jakarta)

Heboh. Penerbitan sebuah majalah di Denmark yang menghina Nabi Muhammad SAW menuai protes global. Dalam kartun itu, Nabi digambarkan membawa bom bak seorang teroris. Dunia pun dicekam ketakutan. Lima kantor Kedubes dibakar massa di Suriah dan Lebanon (Headline SOLOPOS, 6/2). Akankah isu penghinaan ini menjadi pertanda babak baru perang atau benturan ”Islam” dan ”Barat”?
Pernyataan Sekjen PBB Kofi Annan sangat simpatik. Kepada umat Islam, Annan mengimbau agar dunia Islam menerima permintaan maaf dari suratkabar yang memuat gambar Nabi Muhammad SAW tersebut. ”Saya mendesak kawan-kawan muslim untuk menerima permintaan maaf ini, atas nama Allah Yang Maha Pengasih,” imbau Annan (Detikcom, 4/2). Selanjutnya, Annan menyatakan bahwa kebebasan pers harus selalu diterapkan melalui penghormatan terhadap keyakinan agama dan ajaran seluruh agama (Kompas, 4/2).Apa yang dilakukan Kofi Annan sangat tepat. Kasus pelecehan terhadap seorang Nabi yang sangat dihormati umat Islam dan semua agama bukanlah isu sepele. Ia merupakan isu internasional dan dapat mengancam stabilitas global jika tidak segera direspons secara cepat dan bijak. Di tengah memanasnya ketegangan antara dunia Islam versus Barat pascatragedi WTC 11/9 dan aksi militer atas Afghanistan dan Irak, pelecehan oleh Majalah Jyllands-Posten (30 September 2005) yang kemudian direproduksi oleh media Barat baru-baru ini dapat ditafsirkan sebagai genderang perang. Alih-alih mengupayakan dialog peradaban, kasus kartun Muhammad itu justru kian mempertebal benturan peradaban.Tidak belajarSungguh, untuk kesekian kalinya dunia tak pernah belajar dari kasus-kasus yang menyangkut ultimate concern. Nabi, Kitab Suci, Tuhan (Allah) tempat-tempat ibadah (mesjid, gereja, pura, kelenteng) adalah simbol-simbol sakral yang harus dirawat dari perusakan atau pelecehan. Semua agama dan pemeluknya sangat mengerti dan menghormati simbol-simbol tersebut. Simbol menurut Mircea Eliade (1907-1986) adalah entitas yang menghadirkan dunia sebagai totalitas yang hidup; yang meremajakan dunia secara terus-menerus, kaya, penuh kekuatan dan tak habis-habisnya. Tak heran, jika suatu simbol sakral diganggu atau dilecehkan akan menimbulkan reaksi sangat keras. Masih segar dalam ingatan kita kasus pemberitaan Newsweek tentang pelecehan Alquran oleh tentara AS di Penjara Guantanamo Mei tahun lalu. Pelecehan ini mengundang ribuan bahkan jutaan protes umat Islam di seluruh dunia. Bahkan aksi protes massa umat Islam di Pakistan memakan korban tewas 15 orang. Kita juga ingat hebohnya novel Salman Rushdie the Satanic Verses tahun 1988 yang juga melecehkan Nabi, Alquran dan umat Islam. Ketegangan dunia meningkat ketika pemimpin spiritual Khomeini dari Iran menghukum mati Rushdie tahun 1989 dengan hadiah 1 miliar kepada siapa saja yang bisa membunuhnya.Di Indonesia, kita diingatkan oleh kasus poling Monitor tahun 1990 yang hampir menyeret kerusuhan sosial. Poling Monitor tentang tokoh-tokoh idola yang dimotori oleh Arswendo dianggap melecehkan Muhammad SAW, karena poling itu sembrono dalam metode sehingga hasilnya menempatkan Muhammad di bawah Arswendo sendiri.Kita tentu menyesalkan reaksi berlebihan. Tetapi kita juga menyesalkan mengapa terhadap simbol-simbol sakral agama tidak berhati-hati? Mengapa dunia tak belajar dari kasus-kasus sejenis? Bagi sebagian besar masyarakat AS dan Barat, boleh jadi simbol-simbol bahkan agama itu sendiri tak dianggap penting. Sekularisasi massif peradaban Barat menyebabkan ranah agama tak lagi dominan dan menentukan. Tetapi bagi peradaban Timur, simbol-simbol dan agama masih menjadi aspek penting dalam kehidupan. Ia masih kuat, yang meminjam Paul Tilich (1887-1965) dalam Dynamics of Faith (1957) disebut sebagai suatu ultimate concern (titik dasar tertinggi dan terakhir).Ide multikulturalisme yang dikembangkan Barat menegaskan harus dilakukan dalam batas-batas keadaban (within the bonds of civility). Dialog peradaban, karena itu, masih menjadi agenda yang tetap relevan bagi dunia untuk mengurangi ketegangan. Dialog peradaban mensyaratkan adanya sikap saling menghargai. Penghinaan terhadap unsur-unsur peradaban, seperti agama dan kepercayaan, berarti sebuah pelanggaran. Dan ia mencerminkan sebuah kondisi uncivilized (tak berkeadaban). Barat harus tegas mengutuk keras pelecehan terhadap salah satu unsur peradaban itu. Sebuah dialog tak bisa efektif jika prinsip dasarnya, yaitu sikap saling menghormati, dilanggar.Kasus kartun Nabi Muhammad bisa menjadi pintu masuk bagi dialog peradaban. Kecaman Sekjen PBB dan sejumlah petinggi negara AS dan Eropa pada kasus itu bisa sedikit mengobati dunia Islam yang tercederai. Dunia Islam pun diharapkan tidak menggunakan kekerasan dalam melakukan reaksi. Dialog dan diplomasi merupakan pilihan bijak untuk meredam ketegangan ini.Saya percaya, meski sejarah panjang tak pernah dapat terhindar dari benturan-benturan antarperadaban, namun selalu ada juga ada faktor-faktor integratif yang bersifat universal. Yakni kian terwujudnya kesadaran dan hati nurani global yang tak terikat oleh peradaban tertentu, tapi mewakili jatidiri sebagai manusia, terlepas dari perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Artinya laksana puncak gundukan pasir runtuh yang selalu mencari keseimbangannya, maka potensi konflik antara dua peradaban itu selalu direm oleh potensi lawannya, yaitu potensi berdamai, berkonsensus, dan bekerjasama.Ada isu-isu strategis yang dihadapi bersama oleh semua umat manusia di planet bumi, yaitu krisis ekologi, ancaman nuklir, kemiskinan, pelanggaran HAM, korupsi dan lain-lainnya. Umat beragama dan umat manusia sedang berada dalam ancaman krisis-krisis itu. Bila kasus-kasus pelecehan pada agama selalu terjadi, maka energi akan terkuras secara percuma. Dalam konteks domestik, kasus Kartun Nabi Muhammad SAW membawa hikmah. Kasus ini mengajarkan kepada masyarakat Indonesia yang majemuk untuk tidak mengusik, melecehkan, dan bermain-main dengan agama dan simbol-simbolnya. Semua agama yang hidup di Indonesia, dengan kasus itu, diharapkan tidak terganggu. Tetapi justru kian menumbuhkan solidaritas sebagai sesama bangsa.Meski demikian, kasus Kartun Nabi Muhammad SAW, tidak berarti membungkam kebebasan pers dan berekspresi. Sejauh berada dalam koridor kode etik dan kesediaan untuk menghormati keunikan sebuah agama berikut simbol-simbolnya, maka freedom of opinion and expression tak menjadi soal. Kini kian disadari bahwa dalam sebuah dunia yang kian tembus pandang, tanggung jawab media (massa maupun elektronik) sungguh sangat mulia dan besar dalam memberi pencerahan serta nilai-nilai solidaritas global. - *) Tulisan ini pernah dimuat oleh SOLOPOS. Penulis dapat dikontaka pada mudhofir1527@gmail.com atau 081586561136

Jumat, 27 Maret 2009

MASA DEPAN PERADABAN ISLAM: DI PERSIMPANGAN JALAN?

Oleh: Mudhofir Abdullah
(Candidate Doctor UIN Syahud Jakarta)

Diskursus keislaman dan kebudayaan, dalam sejarahnya, selalu saja menunjukkan gairah, elan vita, dan dinamikanya yang unik. Unik karena Islam di antara agama-agama yang lainnya paling aktif dan hidup di tengah-tengah kehidupan modern, terutama, dilihat dari sisi semangat dan praktik para pemeluknya. Sejak didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW. di Mekah tahun 611 M., Islam telah mengalami berbagai persentuhan dengan kebudayaan dan peradaban lain. Dalam rentang itu pula, dilihat dari sisi praksis, Islam mengalami jatuh bangun, sekalipun dari sisi normatif ia selalu kokoh berkenalan dengan sistem, ideologi, dan world view lainnya.
Dalam masa perkenalan dengan peradaban Helenis (jaman Romawi dan Persia), misalnya, Islam cukup berhasil memetik manfaat yang begitu besar berupa adopsi ilmu-ilmu, teknologi, kebudayaan, dan sistem-sistem sosial lainnya. Hasilnya adalah lompatan besar peradaban Islam sebagaimana tercermin dalam berbagai ekspansi teritorial, sistem pendidikan, dunia pemikiran, dan bangunan-bangunan berkualitas tinggi baik di Eropa (Spanyol), China, dan Persia (wilayah Iran sekarang). Hampir tujuh abad lamanya, Islam bertengger di atas memimpin peradaban lainnya dalam bidang pemikiran (filsafat, kedokteran, ilmu fisika, geometri, dan lain-lainnya). Kesuksesan historis ini, tentu, sangat mengejutkan peradaban lain seperti Romawi, Persia, dan China menyaksikan betapa luas, cepat, dan dinamisnya peradaban Islam itu melanda bagian dunia lain. Padahal, dilihat dari sumber alam, Arab Saudi—di mana agama Islam lahir dan berasal—adalah hanya hamparan tanah yang gersang, bergunung-gunung, terlalu panas kalau siang, dan terlalu dingin kalau malam. Pada saat itu, Mekah dan sekitarnya, tidak pernah diperhitungkan sedikitpun oleh Persia dan Romawi. Tetapi, mereka terkejut ketika Nabi Muhammad SAW. mulai membawa pesan-pesan keagamaan Islam yang begitu cepat membahana ke seluruh alam. Ke arah barat Islam menguasai seluruh daerah Afrika Utara, menduduki sebagian besar Spanyol dan masuk hingga ke pusat Perancis. Ke arah Timur Islam menduduki Imperium Persia dan merembes masuk ke Asia Tengah serta Punjab sampai akhirnya menjangkau seluruh alam, termasuk Indonesia dengan mencatat rekor sebagai pemeluk Islam terbesar se dunia.
Memang kota Mekah waktu itu sebagai kota perdagangan yang ramai dikunjungi bangsa-bangsa lain yang berdekatan, tetapi hamparan sisanya adalah tanah-tanah yang hanya menawarkan sedikit sumber alam sehingga penduduknya suka berburu dan berdagang untuk bertahan hidup. Dari situasi itulah, Islam lahir, yang dibawa oleh seorang Nabi yang sejak mudanya memperlihatkan sikap-sikap yang luhur dan dijuluki oleh masyarakatnya Al-Amin (yang terpercaya); seorang Nabi yang berasal dari keturunan Ibrahim AS di mana dia merupakan bapak dari agama-agama sawawi: Yahudi, Kristen, dan Islam yang selanjutnya sering disebut sebagai (Abrahamic tradition/religion).
Aspek kesejarahan yang begitu mencengangkan ini menjadi dasar bagi suatu penilaian bahwa Islam merupakan entitas yang begitu penting dan ditakdirkan untuk memperbarui paham dan praktik keagamaan masyarakat manusia yang telah mengalami titik nadir, sehingga perlu untuk diperbarui. Juga untuk menyempurnakan pesan-pesan Tuhan sebelumnya baik yang ada di Taurat maupun Injil. Dalam arti ini, kelahiran Islam adalah sebuah desain Tuhan (Allah swt.) dan bukan kehendak Nabi Muhammad SAW. sebagaimana dituduhkan oleh para orientalis. Islam adalah pesan universal yang memiliki dimensi-dimensi moral yang tinggi mencakup berbagai ras, bahasa, etnis, warna kulit, dan daerah /bangsa. Islam lahir untuk memenuhi panggilan kebutuhan manusia yang tersesat oleh hiruk-pikuknya kehidupan duniawi yang dipenuhi oleh peperangan, praktik-praktik imoral, dan berbagai dimensi negatif-destruktif lainnya. Karena itu, kelahiran Islam, secara metaforis, digambarkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan alam dan membimbing arah perjalanan manusia di dunia agar tetap berada di jalan Tuhan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang telah ada sejak adanya manusia, din al-fitrah. Ia menegaskan kebenaran abadi dan merupakan jalan hidup. Sebagai jalan hidup, Islam mencakup seluruh aspek eksistensi dan tingkah laku manusia. Tidak ada salah satu aspek pun yang lebih penting dibandingkan aspek yang lain, dan terdapat suatu kesatuan dan keseimbangan antara aspek material, rasional, dan spiritual dalam setiap usaha manusia. Realisasi ini penting untuk membahas masa depan peradaban muslim dan juga peradaban manusia secara keseluruhan. Dikarenakan oleh adanya keseimbangan inilah, Islam sering digambarkan sebagain ‘jalan tengah’ dan inilah pula sebabnya Islam, sebagai jalan hidup, dikatakan mengarah kepada moderasi. Ini berarti bahwa Islam tampil dengan penyempurnaan-penyempurnaan atas pesan-pesan agama samawi lainnya. Selanjutnya, interaksi kesejarahan telah menghasilkan titik singgung dengan realitas lain sehingga tak jarang pesan moral perdamaian dan kerja sama antar umat beragama mengalami interupsi.

Beberapa interupsi
Begitulah, sejarah Islam tampil berhadapan dengan berbagai realitas. Umat Islam pun belajar menghadapi dan memperlakukan realitas sedemikian rupa sehingga antara Islam dan realitas tidak kehilangan titik keterputusan. Relevansi antara Islam dan realitas selalu diusahakan untuk tetap terjaga. Upaya-upaya ini memiliki konsekuensi pada aktivitas pemikiran umat Islam yang makin dinamis dan kompleks dan dalam menyertai aktivitas ini adalah terwujudnya karya-karya, pemikiran-pemikiran, dan akhirnya peradaban Islam. Energi untuk proses ini terlalu terkuras, sehingga peradaban Islam bergulat dalam proses dekonstruksi-rekontruksi melalui reinterpretasi dan reaktualisasi pemahaman keagamaan. Proses intelektual inilah yang mengawal dan menyertai jatuh bangunnya sebuah peradaban Islam yang mengalami pasang surut yang dalam sejarah pernah mengalami puncak kejayaannya pada abad-abad pertengahan justru ketika Eropa dan Barat dilanda abad kegelapan dan kebodohan.
Namun segera ditambahkan bahwa akibat kekalahan-kekalahan politis, ekonomi, dan teknologi, di samping tentu saja akibat konflik-konflik internal umat Islam (seperti pada masalah-masalah teologi, fikih, dan lain-lainnya), vitalitas peradaban Islam berangsur-angsur surut sampai akhirnya pada awal-awal abad ke –19 dunia Islam gagal melahirkan jaman modern.[i] Modernisasi justru dilahirkan oleh Kristen Barat, sehingga Islam tidak lagi mampu mengontrol pesatnya kemajuan di luar peradabannya. Konsekuensi dari kegagalan ini adalah gagalnya umat Islam menciptakan tata dunia baru yang ditandai oleh teknologi. Padahal teknologi inilah yang menjadi garda depan kemajuan infrastruktur sosial-ekonomi-budaya dan militer. Lalu Baratlah yang melakukan ekspansi teritorial besar-besaran dengan sasarannya bangsa-bangsa Arab, Asia, dan Afrika (yang beragama Islam), termasuk Indonesia. Kejayaan dan hegemoni Barat atas Islam hingga kini masih berlangsung. Hal ini menjadi titik balik bagi peradaban Islam yang makin tidak berdaya di hadapan bangsa Eropa dan Amerika. Kekuatan Barat hampir sempurna untuk tidak dapat ditandingi lagi oleh umat Islam. Masalah inilah yang sampai hari ini menjadi masalah krusial yang diatasi oleh dunia Islam. Tentang ini, Malise Ruth Ven menulis:
Sejak penghujung abad ke-18 masalah dominasi Barat—baik dipandang sebagai kaum Kristen, sekuler ataupun ateis—telah menyita perhatian utama para pemikir dan aktivis Muslim, serta bahkan seluruh umat Islam, yang telah berupaya merumuskan relevansi pesan al-Qur’an bagi generasi mereka.[ii]

Selanjutnya, dalam waktu yang sama, berbagai konflik pun menyertai kehidupan beragama antara Islam dan agama-agama lainnya. Dari pihak Islam, lahir pula ekstremitas beragama sebagai artikulasi dari kekalahan umat atas kebudayaan Barat. Maka umat Islam terbelah dalam menyikapi kekalahan dan modernitas yang asing bagi mereka. Ada umat Islam yang menempuh jalur fundamentalis (ushuliyyin), sementara itu ada umat Islam yang lainnya lebih memilih kerja sama dan belajar kebudayaan Barat sebagai cara untuk memajukan taraf kebudayaan mereka. Sikap yang berbeda ini terjadi sebagai akibat dari tinjauan dunia mereka atas berbagai ajaran agama. Juga ditentukan oleh pengalaman, wawasan, dan tradisi berfikir mereka terhadap realitas ini. Maka tak heran jika kemudian antara Islam dan Barat diramalkan akan berbenturan, sebagaimana ditulis oleh Huntington dalam bukunya yang kontroversial “The Clash of Civilization”. Ramalan ini merujuk pada kenyataan bahwa Islam di satu pihak, dan Barat di pihak lainnya, memiliki jalur pemikiran, tradisi, dan kultur yang berhadap-hadapan sehingga berpotensi untuk terjadinya konflik atau benturan.
Terlepas dari benar-tidaknya teori-teori itu, problem dunia Islam atas gejala-gejala modernitas yang dikuasai Barat, dan kemunduran Islam di pihak lainnya, mencerminkan adanya perjuangan tak henti-hentinya dunia Islam merekonstruksi peradabannya. Berbagai usaha rekonstruksi ini pun banyak lahir dari karya-karya para intelektual Islam yang, di antaranya, banyak merepresentasikan kegelisahan mereka atas realitas dunia Islam yang dilanda kemunduran hampir di berbagai bidang. Islam, lalu, nampak sebagai entitas yang identik dengan terorisme, keterbelakangan, kemiskinan, keras kepala, dan barbar. Stigma-stigma yang negatif ini, di satu pihak, sangat menyakitkan umat Islam, yang pada waktu bersamaan tidak berdaya menepis stigma itu. Insfrastruktur untuk menepis terlalu kecil sehingga usaha-usaha untuk itu terlalu tenggelam dalam bayang-bayang keperkasaan kebudayaan dan peradaban Barat.
Kini, dan mungkin sampai batas yang tidak diketahui, dunia Islam berada pada kebimbangan bagaimana rekonstruksi peradaban Islam dimulai. Seluruh energi telah banyak dilakukan seperti dengan mulai menerima kehadiran sistem-sitem modern seperti perbankan, kapitalisasi, perjanjian-perjanjian dunia, dan mengadopsi berbagai teknologi mutakhir yang telah menjadi bagian integral kehidupan modern seperti kebudayaan internet. Sebagian diadopsi secara kritis sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Islam, tetapi tak jarang menerima sistem modern ala Barat secara total tanpa seleksi. Akibatnya adalah terbelahnya ragam pemahaman mereka atas teks-teks wahyu dan tradisi. Itulah pergulatan tanpa akhir yang sedang melanda dunia Islam, di samping menghadapi peliknya stigma negatif Barat atas mereka. Juga masalah-masalah ekonomi, kemiskinan, kesenjangan sosial, kesehatan, pendidikan, dan penyelesaian konflik-konflik politik dan ekonomi yang selalu menyertai perjalanan dunia Islam.[iii]
Dari alasan-alasan di atas suatu pertanyaan pantas diajukan, dapatkah umat Islam akan memetik kesuksesan kembali dalam persinggungannya dengan jaman modern sebagaimana pernah sukses dalam sejarah pertemuan pertama dengan peradaban Helenistik yang begitu gemilang pada abad-abad awal Islam? Apakah jaman modern senantiasa menjadi ancaman atau tantangan bagi dunia Islam? Apakah usaha-usaha dunia Islam untuk bangkit kembali dari tidur pulas tradisionalnya ini belum mampu menampakkan geliat keberhasilan? Apakah usaha-usaha itu programatik, sistemik, dan memiliki visi yang sama di antara dunia Islam yang terpencar-pencar? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang menghinggapi kegelisahan, semangat, dan energi intelektual umat Islam yang segera memerlukan aksi.

Stigma dan Islamophobia
Di tengah-tengah kegelisahan yang belum pulih, dunia Islam digempur oleh berbagai stigma yang negatif dari dunia Eropa dan Amerika beserta sekutunya. Dunia Islam telah lama dianggap sebagai dunia yang penuh intrik, teroris, kebodohan, barbar, penuh darah, dan tidak bisa diatur. Kontrol media Barat dan Amerika atas dunia Islam cukup berhasil menggambarkan potret Islam dalam bentuk stigmatisasi yang sangat sempurna. Hasilnya adalah gambaran buruk-rupa Islam di mata dunia dan bangsa-bangsa modern.
Contoh-contoh tentang buruk-rupa wajah Islam dieksploitasi melalui tokoh-tokoh tiran dari negara Islam, seperti Khadaffy, Saddam Husein, Khumaeni, jaringan Al-Qaedah (Osama bin Laden) dan lain-lain. Tentu, pandangan negatif ini kental dengan sinisme dan stereotipe Barat dan Amerika atas Islam. Ini berarti Islam dikonstrusikan dan dikerangkeng dalam perspektif-perspektif Barat yang penuh kebencian. Obyektivitas pandangan Barat dan Amerika atas dunia Islam tampak dipenuhi oleh pandangan konfliktual dan kental dengan kebencian di masa lalu (misalnya, tragedi-tragedi peristiwa Perang Salib). Jadi, dalam dunia Barat dan Amerika telah dijangkiti penyakit islamophobia, yaitu penyakit kejiwaan yang memandang sesuatu sebagai menakutkan dan karena itu perlu dijauhi bahkan dimusnahkan dari dunia. Perspektif yang sangat ironis ini tentu tidak bisa diharapkan untuk melahirkan pandangan yang jujur, obyektif, dan adil atas dunia Islam. Kejujuran untuk melihat dunia Islam yang adil dan obyektif hanya dimiliki oleh ilmuwan-ilmuwan Barat dan Amerika yang jujur dan memiliki komitmen tinggi pada prinsip-prinsip ilmiah. Kelompok ilmuwan inilah yang sedikit banyak menampilkan citra yang positif. Ini, tentu saja, hanyalah oase dari gempuran tak henti-henti dari hujatan Barat dan Amerika atas Islam.
Serangan paling nyata dan dilakukan secara fisik adalah tindakan militer Amerika dan sekutunya atas Afghanistan tahun 2001 dan Irak tahun 2003. Serangan ini dipicu oleh tragedi 11 September 2001 yang menimpa Menara Kembar WTC (World Trade Centre) dan Pentagon Amerika, yang diduga dilakukan oleh jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Kemudian pada tanggal 12 Oktober tahun berikutnya (2002) ledakan terjadi. Kali ini menimpa kawasan wisata Bali dengan korban hampir 200 ribu jiwa dari berbagai negara. Peristiwa dilakukan oleh jaringan terorisme di Asia Tenggara dan memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Kasus-kasus terorisme ini dengan cepat dan mudah langsung dialamatkan ke umat Islam. Dunia Islam lalu tersentak dengan kenyataan pahit ini. Serangkaian tragedi inilah yang mengilhami serangan Amerika dkk. ke Afghanistan dan Irak, walaupun pendapat ini dibantah oleh mantan menteri keuangan yang dipecat George W. Bush, Paul O’Neill yang menyatakan bahwa Bush sejak awal-awal jabatannya sudah merencanakan serangan militer ke Irak, “Bush melakukan berbagai upaya untuk melaksanakan niatnya menyerang Irak”, kata O’Neill, “Bush bagai orang buta di dalam ruangan yang penuh dengan orang tuli saat memimpin rapat-rapat kabinet”, kata O’Neill selanjutnya. Kesaksian O’Neill seperti ditulis dalam buku The Price of Loyalty karya Ron Suskind menunjukkan bahwa ada ketidakjujuran politik Amerika atas dunia Islam.[iv] Padahal Korea Utara, dan Israel adalah negara-negara yang memiliki senjata nuklir, tetapi poisinya aman-aman saja, mungkin karena mereka bukan bangsa muslim sehingga tidak diserang secara militer.
Karena itu, mudah dipahami bahwa serangan Amerika atas dua bangsa ini—yang kebetulan adalah bangsa Muslim dianggap sebagai serangan terhadap dunia Islam yang dilakukan tidak dengan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan. Terlepas dari alasan yang dibuat-buat Amerika dkk., serangan ini jelas dianggap sebagai kelanjutan dari artikulasi Islamophobia Barat atas Islam. Serangan militer ini terjadi di dunia modern yang sangat menghargai HAM, tetapi kebiadaban Amerika hampir tak ada yang bisa menghentikannya. Maka terjadilah sebuah elegi bagi Umat Islam dengan korban-korban harta, nyawa, dan air mata yang maha dahsat. Belakangan terbukti bahwa alasan Amerika dkk., tidak benar karena senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) yang dijadikan sebagai alasan serangan tidak ditemukan. Kecongkakan bangsa Amerika dkk., lagi-lagi menanamkan investasi kebencian dan ketidakadilan bagi umat Islam.
Hasilnya adalah keterkejutan umat Islam di segala hal dan pada akhirnya memberi kesadaran bagi perlunya sikap bersama umat Islam untuk menghadapi ketidakadilan ini melalui cara-cara diplomasi dan kerjasama secara adil, sekalipun tak bisa ditutup-tutupi bahwa ada kelompok-kelompok yang geram dan putuys asa sehingga melakukan perlawanan secara berlebihan melalui terorisme. Semua usaha itu, dilakukan sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik agama yang dibalut secara tebal oleh dimensi-dimensi ekonomi dan politik. Sikap yang merupakan sikap dominan umat Islam dunia ini tidak berarti tidak kritis pada Barat dan Amerika, tetapi secara diplomatis menjalankan kampanye solidaritas Islam dan perdamaian sebagai pesan Islam untuk seluruh alam. Dunia Islam harus berjuang bersama melawan ketidakadilan untuk selanjutnya membangun kerjasama dengan berbagai peradaban yang ada. Semangat jaman kita adalah semangat membangun atas dasar cahaya etik agama-agama besar dunia yang murni dan sejati, bukan agama yang telah dibungkus oleh kepentingan etnis, kelompok, dan ekonomi-politik.
Dari garis argumen ini, nuktah-nuktah pemikiran dari buku ini diharapkan bisa memberi inspirasi bagaimana memahami kenyataan dari konfigurasi dunia Islam yang berada di bawah bayang-bayang dominasi Barat dan Amerika, dan selanjutnya bagaimana memberi respon yang tepat dan strategis sehingga dunia Islam tidak bergerak dalam lumpur keputusasaan dan ketidaberdayaan yang berkelanjutan tanpa akahir. Melawan kekuasaan yang congkak dan terlalu kuat memerlukan strategi-strategi yang jitu, sehingga perlawanan atau respon dunia Islam lebih terarah, berjangka panjang, dan berkelanjutan dengan energi yang makin kuat.




Catatan Akhir

1Bandingkan dengan tulisan S.M.N. Al-Atas, Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethic and Morality (Kuala Lumpur, 1975).
[ii]Malise Ruth Ven, Islam in the World, Harmondsorth, 1984, hlm. 289
[iii] Situasi ini menyebabkan lahirnya apa yang oleh Fazlur Rahman disebut “neo-fundamentalisme”, yakni kelompok umat Islam yang memiliki kesetiaan penuh dan ikatan emosional yang kuat sekali pada Islam dan sangat menginginkan Islam itu diperkuat untuk menghadapi Barat, selanjutnya Fazlur Rahman mengatakan, “…So far as Islamic learning is concerned, they are dilettantes: indeed neo-fundamentalism is basically a function of laymen, many of whom are professionals—lawyers, doctors, engeneers” lihat Fazlur Rahman, Roots of Islamic –Neo-Fundamentalism,” Dalam Philip H. Stodard, et. al., eds., Change and the Muslim World (Syracuse, Y.N. University Press, 1981), p. 27-28.
[iv] Kompas, 15 Januari 2004 dan Solopos, 14 Januari 2004.

Catatan Akhir

1Bandingkan dengan tulisan S.M.N. Al-Atas, Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethic and Morality (Kuala Lumpur, 1975).
[1]Malise Ruth Ven, Islam in the World, Harmondsorth, 1984, hlm. 289
[1] Situasi ini menyebabkan lahirnya apa yang oleh Fazlur Rahman disebut “neo-fundamentalisme”, yakni kelompok umat Islam yang memiliki kesetiaan penuh dan ikatan emosional yang kuat sekali pada Islam dan sangat menginginkan Islam itu diperkuat untuk menghadapi Barat, selanjutnya Fazlur Rahman mengatakan, “…So far as Islamic learning is concerned, they are dilettantes: indeed neo-fundamentalism is basically a function of laymen, many of whom are professionals—lawyers, doctors, engeneers” lihat Fazlur Rahman, Roots of Islamic –Neo-Fundamentalism,” Dalam Philip H. Stodard, et. al., eds., Change and the Muslim World (Syracuse, Y.N. University Press, 1981), p. 27-28.
[1] Kompas, 15 Januari 2004 dan Solopos, 14 Januari 2004.

Bencana Situ Gintung, perbuatan Tuhan, Manusia, atau Alam?

Oleh: Mudhofir Abdullah

Sekitar pukul 05.00 pagi Jumat, 27 Maret 2009 Tanggul Situ Gintung ambrol dan menelan dua kampung di sekitarnya. Sampai dengan pukul 12.00 korban tewas sekitar 35 orang dan korban hilang lain belum diketahui. Rumah-rumah penduduk ditelan banjir dan sejumlah rumah roboh. Mobil-mobil warga ikut terseret arus air. Korban adalah anak-anak, wanita dan orang tua. Luapan banjir yang mirip tsunami kecil itu menelan korban yang tidak murah. Pertanyaannya, siapa pelakunya? Tuhan, manusia, atau semata-mata alam?
Para pengkhotbah pasti akan menyampaikan bahwa itu musibah karena banyak pendosa yang tidak beribadah kepada Allah. Atau para ecologists akan mengatakan itu akibat ulah manusia yang tidak memerhatikan lingkungan. Sementara orang awam akan bilang, “itu karena alam dan kita kena sial”. Tiga tipologi jawaban itu tak sepenuhnya benar dan perlu dikritisi.
Jika bencana Situ Gintung karena azab atau musibah Allah, mengapa harus menimbulkan korban manusia yang nyawa dan penderitaannya sulit kita bayangkan? Mengapa Allah mendendam kepada hamba-Nya sendiri yang lemah? Mengapa anak-anak yang tak berdosa dan belum mengetahui apa makna dosa dan pahala ikut jadi korban? Mengapa korbannya nenek-nenek yang sebentar lagi mati? Mengapa dan mengapa ini terjadi? Bencana itu, pastilah bukan perbuatan Tuhan, tapi ulah manusia yang tidak memerhatikan lingkungan dan tata ruang penyelamatan lingkungan. Manusia itulah yang menjadi akar-akar penyebabnya? Manusia yang mana? Di lokasi itu banyak pula orang yang baik-baik, tapi jadi korban juga. Lalu pemerintah kota? Atau sejarah alam yang menyebabkan bencana itu?
Saya tidak bisa menjawab tegas semua itu. Tapi saya tegas menolak, bencana itu perbuatan Tuhan karena dendam gara-gara manusia tidak patuh pada-Nya. Saya lebih setuju kalau bencana itu adalah sejenis “kelalaian spesies manusia yang bertanggungjawab pada lingkungan Situ Gintung tapi tidak memeriksa atau menyelidiki seberapa aman lingkungan sekitar. Mengapa tidak ada peringatan seberapa bahaya lingkungan sekitar? Kesalahannya semata-mata pada ketimampuan ketajaman melihat ‘tanda-tanda jaman’ karena terlelap oleh kepuasan pada duniawi. Lalai karena hatinya kafir atau cover (tertutup) untuk mengawasi lingkungannya dari bahaya-bahaya yang mungkin mengancam.
Jangan pula menyalahkan korban (blaming the victim), karena korban-korban itu ada yang baik, ada yang anak-anak, dan orang-orang miskin yang selama hidupnya tertindas oleh ketidakadilan sistem sosial dan politik. Sekali lagi jangan salahkan para korban, jangan salahkan Tuhan, dan jangan salahkan alam. Salahkan manusia-manusia yang lalai pada peringatan-peringatan-Nya. Jadi kelalaian itulah yang menjadi sebab semua bencana, termasuk bencana di Situ Gintung itu.

Kamis, 02 Agustus 2007

ISLAM DAN MASALAH PEMBARUAN

Oleh Mudhofir Abdullah

Hingga sekarang, tidak seluruh umat optimis menatap masa depan peradaban Islam. Hilangnya optimisme ini terjadi sebagian karena fakta-fakta obyektif tentang dunia Islam yang merosot. Sejak persentuhannya dengan abad modern (sekitar sejak abad ke-17), dunia Islam limbung dan gugup mencari cara-cara baru untuk menghadapinya. Respon dan serangkaian strategi pun dibuat melalui pembaruan-pembaruan. Lalu sampai di mana hasilnya hingga kini?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan besar umat Islam sampai sekarang. Kegelisahan ini muncul hampir merata di kalangan umat Islam. Di kalangan kaum Muslim modernis, kegelisahan itu ditunjukkan dalam karya-karya mereka yang mendobrak kebekuan doktrin Islam. Di kalangan Muslim awam, kegelisahan itu muncul dalam bentuk radikalisme agama. Respon dan metode pembaruan seperti apalagi yang harus dilakukan? Kita namapkanya perlu metode pembaruan spesifik yang dapat mendobrak kebekuan dan merengkuh kebangkitan dalam artinya yang luas.

Perlunya metode pembaruan
Pembaruan Islam memerlukan metode. Tanpa metode, sebuah pembaruan tidak akan efektif dan tidak bisa berjalan dengan orientasi-orientasi yang jelas. Metode diperlukan untuk mempertajam perkakas-perkakas analisis dan membuka peta-peta jalan ke arah mana pembaruan akan ditempatkan. Ibarat sebuah peta, metode menunjukkan titik-titik tujuan yang hendak dicapai. Metode, tentu saja, bisa berubah, bersifat dinamis, dan dibuat dengan standar-standar yang dapat dipertanggungjawabkan secara logika, moral, dan juga ilmiah.
Metode pembaruan Islam sepanjang sejarahnya tidak seragam. Metode pembaruan ini muncul sebagai respon kaum elit agama (ulama) atas pelbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Respon ini mengambil bentuk secara berbeda. Ada yang memilih cara-cara moderat, fundamentalis, maupun liberal. Ketiga metode respon ini pun, dengan variannya masing-masing, mengalami perubahan dan dinamika sesuai dengan situasi kesejarahan serta pengalaman yang dihadapi (likulli maqam maqal).
Setiap metode pembaruan digerakkan oleh tokoh-tokohnya sendiri. Tokoh-tokoh inilah yang mewakili gugusan kaum elit yang menggerakkan perubahan-perubahan penting dalam masyarakatnya. Aktivitas kaum elit ini sangat menentukan tahap-tahap perkembangan masyarakat. Mengutip Toynbee, perkembangan peradaban berkaitan dengan karya kreatif kelompok minoritas (gugusan elit) yang harus memikirkan tanggapan yang tepat atas tantangan sosial dan juga mendorong masyarakat memilih alternatif tanggapan yang direncanakannya. Jika elit ini, kata Toynbee lebih lanjut, tidak dapat lagi memenuhi fungsi ini, maka peradaban akan mengalami kemunduran dan selanjutnya kematian.
Demikianlah, para pembaru telah melakukan serangkaian kerja intelektual serius. Dari Muhammad Abduh di awal abad 19 hingga kini pembaruan terus dilakukan. Namun, pengaruhnya belum memperbaiki dunia Islam secara signifikan. Pro-kontra tentang pembaruan Islam terus berlangsung dan ini berjalin kelindan dengan dominasi Barat yang mencengkram kokoh dunia Islam. Alih-alih menemukan metode-metode utama tentang pembaruan Islam yang andal, dunia Islam hustru menghadapi gejolak politik dalam negeri dan isu-isu kemiskinan yang menjerat warganya. Krisis pendidikan, krisis ekonomi, dan krisis-krisis lainnya tergambar dari merosotnya peradaban Islam sejak lebih kurang 200 tahun yang lalu.
Benar bahwa Islam telah mampu melewati (meski dengan perjuangan keras) lima peradaban besar (Yunani, Semit, Persia, India, dan China) tanapa kehilangan identitas kulturalnya, namun kini terasa berat menghadapi dominasi Barat yang unggul dalam semua bidang. Islam dalam persimpangan jalan antara memilih metode tradisionalisme ataukah sekularisme. Modernitas bagi Islam merupakan pengalaman yang sama sekali berbeda dan sulit untuk dihadapi sepanjang sejarahnya.
Kegamanagan Islam pada modernitas bukanlah sesuatu yang ganjil. Hal yang sama juga dialami oleh semua agama, termasuk Kristen dan masyarakat Barat. Modernitas telah menyebabkan institusi-institusi keagamaan harus melakukan redefinisi atas tafsir-tafsir teologis dan peran-perannya di masyarakat yang baru. Modernisme di dunia Muslim muncul sebagai suatu perpaduan dua ideologi Barat: teknikisme dan nasionalisme. Tetapi Barat-Kristen telah selesai menghadapi ini dengan memisahkan agama dari institusi-institusi negara dan keluarga. Inilah yang disebut sekularisme.
Di sisi lainnya, Islam masih bergulat mencari cara-cara baru. Dan pergulatan ini terus berlanjut membentuk siklus yang tak berujung pangkal, hingga kini. Haruskan umat islam menempuh jalan sekularisasi sebagaimana Barat-Kristen? Secara umum akan dijawab tidak. Tetapi secara tidak disadari, sekularisasi telah dipraktikkan sebagian besar masyarakat Islam. Sekularisasi telah menjadi pandangan yang lumrah dan telah dianggap sebagai keharusan total dalam kehidupan modern. Bukan saja oleh negara-negara yang terang-terangan menyebut dirinya sekuler seperti Turki, tetapi juga oleh negara-negara yang secara keras menolak sekularisme.
Sejak Muhammad abduh (1849-1905) mendeklarasikan bahwa Islam dapat direkonsiliasikan dengan pemikiran modern, sejak itu pula terbuka pintu bagi membanjirnya doktrin intelektualisme baru dengan inovasi-inovasi modern. Artinya, seperti dikemukakan Albert Hourani, "Dia bermaksud membangun tembok untuk membendung sekularisme, tetapi ternyata justru menyediakan jembatan yang melapangkan jalan bagi skeularisme. Murid-muridnya belakangan membawa doktrinnya ke arah sekularisme total" (Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age: 1798-1939, 1983:144).
Meski masih diperdebatkan, sekularisasi adalah proses global yang disadari atau tidak kini telah melanda bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia. Sekularisasi adalah ciri dari modernitas. Modernitas berintikan teknologi. Ini berarti urbanisasi dan industrialisasi merupakan keniscayaan dari masyarakat modern yang, tentu saja, telah membawa serta perangkat-perangkat nilai yang sama sekali berbeda. Cara baru, metode baru, respon baru, dan paradigma baru diperlukan agar relevansi agama (baca Islam) dan kehidupan tetap terjaga. Pembaruan Islam adalah salah satunya.
Namun senyampang dengan perubahan-perubahan sosial yang cepat, pembaruan Islam tak lagi memadai untuk merespon cepatnya perubahan-perubahan itu. Pembaruan seperti kehilangan ruhnya dan tak lagi mampu mengejar lagi. Bahkan ada pembaruan atau tidak, tak ada pengaruh. Agama dan kehidupan modern berjalan sendiri-sendiri. Agama tak lagi mampu memandu arah-arah pergerakan masyarakat. Kehidupan lebih banyak dikendalikan oleh pasar. Inilah yang dirasakan umat Islam, kini.
Saya curiga, bahwa jangan-jangan masyarakat Islam secara perlahan tetapi pasti, sedang menjalani tahapan kehidupan sebagaimana dijalani masyarakat Barat-Kristen. Jangan-jangan pilihannya akan jatuh pada "manifesto perceraian agama dari ranah kehidupan publik" (baca: sekularisasi total) dan tidak lagi peduli pada gagasan-gagasan ortodoksi Islam. Jika amatan ini benar, maka dapat dikatakan bahwa pembaruan Islam adalah sama dan sebangun dengan sekularisasi.
Betulkah sekularisasi segala hal sedang terjadi pada masyarakat Muslim dan menjadi metode pembaruan alternatif? Jika sekularisasi adalah pemanfaatan akal untuk mengeksplorasi agama dan sains sebagaimana didefinisikan Cak Nur pada 1970-an, maka ini baik. Tapi jika maksudnya adalah pemisahan struktural dan pengasingan agama serta hilangnya kredibilitas agama pada pengalaman manusia, maka ini berita buruk. Untuk makna yang disebut terakhir, kita harus menemukan strategi penyelamatan melalui strategi kebudayaan, yakni lewat pembenahan total pendidikan Islam. Wallahu a'lamu bil shawab.


Jumat, 20 Juli 2007

Karya-karya Bijak tentang Ecology

Krisis-krisis ekologi kini kian memburuk. Pandangan hidup yang bersifat hedonistik dan materialistik membuat alam dikuras dan dijadikan pelacur. Tingkat konsumsi yang boros dan bermewah-mewah membuat alam kian kedodoran dan berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan. Bencana-bencana yang terus menimpa umat manusia menjadi bukti bahwa alam tak lagi nyaman untuk dihuni. Umat manusia terlepas dari perbedaan agama, bahasa, etnis, dan golongan harus bahu-membahu mencegah kerusakan dan krisis ekologi. Pemanasan global yang akibat-akibatnya mulai terasa harus dicegah dan ini tidak cukup hanya oleh kalangan pemerintahan tetapi yang paling penting adalah umat beragama dengan kekuatan moral dan imannya.
Seruan untuk peduli pada masalah ekologi harus secara terus-menerus diteriakan. Demikian pula ajaran agama harus disajikan dengan konsep-konsep ekologi, sehingga umat menjadi sadar bahwa memelihara lingkungan sama pentingnya dengan beribadah.

Berikut ini saya sarankan untuk membaca buku-buku tentang ekologi yang bisa menggugah getar-getar hati untuk melaksanakannya.
1) Mustafa Abu-Sway "Towards an Islamic Environment: Fiqh al-Bi'ah fil-Islam". Tulisan ini disampaikan di Masjid Belfast Amerika Serikat pada Februari 1998. Karya ini menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang paling komprehensif dalam perhatiannya terhadap masalah-masalah manusia dan lingkungannya. Dia menyajikan ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis untuk menunjukkan bahwa Islam itu peduli pada lingkungan.

2) "Religion and The Order of Nature" karya Seyyed Hossein Nashr.
Meski karya ini tidak secara spesifik bicara soal lingkungan dalam perspektif Hukum Islam, namun muatan kajian dan analisisnya mengacu pada tradisi Islam. Ini bisa dimengerti karena Nasr adalah intelektual Islam yang pemikirannya sangat kental dengan khasanah keislaman sebagaimana ditunjukkan dalam buku-bukunya, termasuk karyanya ini.
Nasr dalam karyanya ini menjelaskan bahwa bumi kita ini sedang mengalami pendarahan hebat akibat luka-luka yang dideritanya akibat ulah manusia yang sudah tidak lagi ramah padanya. Pandangan sekular dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang tercerabut dari akar-akar spiritualitas dan agama, membuat bumi kian mengalami krisis dan terus menghampiri titik kehancurannya. Karena itu, peran agama untuk membantu mengatasinya merupakan sesuatu yang krusial (Lihat Hussein Nasr, 1996:3).