Jumat, 27 Maret 2009

MASA DEPAN PERADABAN ISLAM: DI PERSIMPANGAN JALAN?

Oleh: Mudhofir Abdullah
(Candidate Doctor UIN Syahud Jakarta)

Diskursus keislaman dan kebudayaan, dalam sejarahnya, selalu saja menunjukkan gairah, elan vita, dan dinamikanya yang unik. Unik karena Islam di antara agama-agama yang lainnya paling aktif dan hidup di tengah-tengah kehidupan modern, terutama, dilihat dari sisi semangat dan praktik para pemeluknya. Sejak didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW. di Mekah tahun 611 M., Islam telah mengalami berbagai persentuhan dengan kebudayaan dan peradaban lain. Dalam rentang itu pula, dilihat dari sisi praksis, Islam mengalami jatuh bangun, sekalipun dari sisi normatif ia selalu kokoh berkenalan dengan sistem, ideologi, dan world view lainnya.
Dalam masa perkenalan dengan peradaban Helenis (jaman Romawi dan Persia), misalnya, Islam cukup berhasil memetik manfaat yang begitu besar berupa adopsi ilmu-ilmu, teknologi, kebudayaan, dan sistem-sistem sosial lainnya. Hasilnya adalah lompatan besar peradaban Islam sebagaimana tercermin dalam berbagai ekspansi teritorial, sistem pendidikan, dunia pemikiran, dan bangunan-bangunan berkualitas tinggi baik di Eropa (Spanyol), China, dan Persia (wilayah Iran sekarang). Hampir tujuh abad lamanya, Islam bertengger di atas memimpin peradaban lainnya dalam bidang pemikiran (filsafat, kedokteran, ilmu fisika, geometri, dan lain-lainnya). Kesuksesan historis ini, tentu, sangat mengejutkan peradaban lain seperti Romawi, Persia, dan China menyaksikan betapa luas, cepat, dan dinamisnya peradaban Islam itu melanda bagian dunia lain. Padahal, dilihat dari sumber alam, Arab Saudi—di mana agama Islam lahir dan berasal—adalah hanya hamparan tanah yang gersang, bergunung-gunung, terlalu panas kalau siang, dan terlalu dingin kalau malam. Pada saat itu, Mekah dan sekitarnya, tidak pernah diperhitungkan sedikitpun oleh Persia dan Romawi. Tetapi, mereka terkejut ketika Nabi Muhammad SAW. mulai membawa pesan-pesan keagamaan Islam yang begitu cepat membahana ke seluruh alam. Ke arah barat Islam menguasai seluruh daerah Afrika Utara, menduduki sebagian besar Spanyol dan masuk hingga ke pusat Perancis. Ke arah Timur Islam menduduki Imperium Persia dan merembes masuk ke Asia Tengah serta Punjab sampai akhirnya menjangkau seluruh alam, termasuk Indonesia dengan mencatat rekor sebagai pemeluk Islam terbesar se dunia.
Memang kota Mekah waktu itu sebagai kota perdagangan yang ramai dikunjungi bangsa-bangsa lain yang berdekatan, tetapi hamparan sisanya adalah tanah-tanah yang hanya menawarkan sedikit sumber alam sehingga penduduknya suka berburu dan berdagang untuk bertahan hidup. Dari situasi itulah, Islam lahir, yang dibawa oleh seorang Nabi yang sejak mudanya memperlihatkan sikap-sikap yang luhur dan dijuluki oleh masyarakatnya Al-Amin (yang terpercaya); seorang Nabi yang berasal dari keturunan Ibrahim AS di mana dia merupakan bapak dari agama-agama sawawi: Yahudi, Kristen, dan Islam yang selanjutnya sering disebut sebagai (Abrahamic tradition/religion).
Aspek kesejarahan yang begitu mencengangkan ini menjadi dasar bagi suatu penilaian bahwa Islam merupakan entitas yang begitu penting dan ditakdirkan untuk memperbarui paham dan praktik keagamaan masyarakat manusia yang telah mengalami titik nadir, sehingga perlu untuk diperbarui. Juga untuk menyempurnakan pesan-pesan Tuhan sebelumnya baik yang ada di Taurat maupun Injil. Dalam arti ini, kelahiran Islam adalah sebuah desain Tuhan (Allah swt.) dan bukan kehendak Nabi Muhammad SAW. sebagaimana dituduhkan oleh para orientalis. Islam adalah pesan universal yang memiliki dimensi-dimensi moral yang tinggi mencakup berbagai ras, bahasa, etnis, warna kulit, dan daerah /bangsa. Islam lahir untuk memenuhi panggilan kebutuhan manusia yang tersesat oleh hiruk-pikuknya kehidupan duniawi yang dipenuhi oleh peperangan, praktik-praktik imoral, dan berbagai dimensi negatif-destruktif lainnya. Karena itu, kelahiran Islam, secara metaforis, digambarkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan alam dan membimbing arah perjalanan manusia di dunia agar tetap berada di jalan Tuhan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang telah ada sejak adanya manusia, din al-fitrah. Ia menegaskan kebenaran abadi dan merupakan jalan hidup. Sebagai jalan hidup, Islam mencakup seluruh aspek eksistensi dan tingkah laku manusia. Tidak ada salah satu aspek pun yang lebih penting dibandingkan aspek yang lain, dan terdapat suatu kesatuan dan keseimbangan antara aspek material, rasional, dan spiritual dalam setiap usaha manusia. Realisasi ini penting untuk membahas masa depan peradaban muslim dan juga peradaban manusia secara keseluruhan. Dikarenakan oleh adanya keseimbangan inilah, Islam sering digambarkan sebagain ‘jalan tengah’ dan inilah pula sebabnya Islam, sebagai jalan hidup, dikatakan mengarah kepada moderasi. Ini berarti bahwa Islam tampil dengan penyempurnaan-penyempurnaan atas pesan-pesan agama samawi lainnya. Selanjutnya, interaksi kesejarahan telah menghasilkan titik singgung dengan realitas lain sehingga tak jarang pesan moral perdamaian dan kerja sama antar umat beragama mengalami interupsi.

Beberapa interupsi
Begitulah, sejarah Islam tampil berhadapan dengan berbagai realitas. Umat Islam pun belajar menghadapi dan memperlakukan realitas sedemikian rupa sehingga antara Islam dan realitas tidak kehilangan titik keterputusan. Relevansi antara Islam dan realitas selalu diusahakan untuk tetap terjaga. Upaya-upaya ini memiliki konsekuensi pada aktivitas pemikiran umat Islam yang makin dinamis dan kompleks dan dalam menyertai aktivitas ini adalah terwujudnya karya-karya, pemikiran-pemikiran, dan akhirnya peradaban Islam. Energi untuk proses ini terlalu terkuras, sehingga peradaban Islam bergulat dalam proses dekonstruksi-rekontruksi melalui reinterpretasi dan reaktualisasi pemahaman keagamaan. Proses intelektual inilah yang mengawal dan menyertai jatuh bangunnya sebuah peradaban Islam yang mengalami pasang surut yang dalam sejarah pernah mengalami puncak kejayaannya pada abad-abad pertengahan justru ketika Eropa dan Barat dilanda abad kegelapan dan kebodohan.
Namun segera ditambahkan bahwa akibat kekalahan-kekalahan politis, ekonomi, dan teknologi, di samping tentu saja akibat konflik-konflik internal umat Islam (seperti pada masalah-masalah teologi, fikih, dan lain-lainnya), vitalitas peradaban Islam berangsur-angsur surut sampai akhirnya pada awal-awal abad ke –19 dunia Islam gagal melahirkan jaman modern.[i] Modernisasi justru dilahirkan oleh Kristen Barat, sehingga Islam tidak lagi mampu mengontrol pesatnya kemajuan di luar peradabannya. Konsekuensi dari kegagalan ini adalah gagalnya umat Islam menciptakan tata dunia baru yang ditandai oleh teknologi. Padahal teknologi inilah yang menjadi garda depan kemajuan infrastruktur sosial-ekonomi-budaya dan militer. Lalu Baratlah yang melakukan ekspansi teritorial besar-besaran dengan sasarannya bangsa-bangsa Arab, Asia, dan Afrika (yang beragama Islam), termasuk Indonesia. Kejayaan dan hegemoni Barat atas Islam hingga kini masih berlangsung. Hal ini menjadi titik balik bagi peradaban Islam yang makin tidak berdaya di hadapan bangsa Eropa dan Amerika. Kekuatan Barat hampir sempurna untuk tidak dapat ditandingi lagi oleh umat Islam. Masalah inilah yang sampai hari ini menjadi masalah krusial yang diatasi oleh dunia Islam. Tentang ini, Malise Ruth Ven menulis:
Sejak penghujung abad ke-18 masalah dominasi Barat—baik dipandang sebagai kaum Kristen, sekuler ataupun ateis—telah menyita perhatian utama para pemikir dan aktivis Muslim, serta bahkan seluruh umat Islam, yang telah berupaya merumuskan relevansi pesan al-Qur’an bagi generasi mereka.[ii]

Selanjutnya, dalam waktu yang sama, berbagai konflik pun menyertai kehidupan beragama antara Islam dan agama-agama lainnya. Dari pihak Islam, lahir pula ekstremitas beragama sebagai artikulasi dari kekalahan umat atas kebudayaan Barat. Maka umat Islam terbelah dalam menyikapi kekalahan dan modernitas yang asing bagi mereka. Ada umat Islam yang menempuh jalur fundamentalis (ushuliyyin), sementara itu ada umat Islam yang lainnya lebih memilih kerja sama dan belajar kebudayaan Barat sebagai cara untuk memajukan taraf kebudayaan mereka. Sikap yang berbeda ini terjadi sebagai akibat dari tinjauan dunia mereka atas berbagai ajaran agama. Juga ditentukan oleh pengalaman, wawasan, dan tradisi berfikir mereka terhadap realitas ini. Maka tak heran jika kemudian antara Islam dan Barat diramalkan akan berbenturan, sebagaimana ditulis oleh Huntington dalam bukunya yang kontroversial “The Clash of Civilization”. Ramalan ini merujuk pada kenyataan bahwa Islam di satu pihak, dan Barat di pihak lainnya, memiliki jalur pemikiran, tradisi, dan kultur yang berhadap-hadapan sehingga berpotensi untuk terjadinya konflik atau benturan.
Terlepas dari benar-tidaknya teori-teori itu, problem dunia Islam atas gejala-gejala modernitas yang dikuasai Barat, dan kemunduran Islam di pihak lainnya, mencerminkan adanya perjuangan tak henti-hentinya dunia Islam merekonstruksi peradabannya. Berbagai usaha rekonstruksi ini pun banyak lahir dari karya-karya para intelektual Islam yang, di antaranya, banyak merepresentasikan kegelisahan mereka atas realitas dunia Islam yang dilanda kemunduran hampir di berbagai bidang. Islam, lalu, nampak sebagai entitas yang identik dengan terorisme, keterbelakangan, kemiskinan, keras kepala, dan barbar. Stigma-stigma yang negatif ini, di satu pihak, sangat menyakitkan umat Islam, yang pada waktu bersamaan tidak berdaya menepis stigma itu. Insfrastruktur untuk menepis terlalu kecil sehingga usaha-usaha untuk itu terlalu tenggelam dalam bayang-bayang keperkasaan kebudayaan dan peradaban Barat.
Kini, dan mungkin sampai batas yang tidak diketahui, dunia Islam berada pada kebimbangan bagaimana rekonstruksi peradaban Islam dimulai. Seluruh energi telah banyak dilakukan seperti dengan mulai menerima kehadiran sistem-sitem modern seperti perbankan, kapitalisasi, perjanjian-perjanjian dunia, dan mengadopsi berbagai teknologi mutakhir yang telah menjadi bagian integral kehidupan modern seperti kebudayaan internet. Sebagian diadopsi secara kritis sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Islam, tetapi tak jarang menerima sistem modern ala Barat secara total tanpa seleksi. Akibatnya adalah terbelahnya ragam pemahaman mereka atas teks-teks wahyu dan tradisi. Itulah pergulatan tanpa akhir yang sedang melanda dunia Islam, di samping menghadapi peliknya stigma negatif Barat atas mereka. Juga masalah-masalah ekonomi, kemiskinan, kesenjangan sosial, kesehatan, pendidikan, dan penyelesaian konflik-konflik politik dan ekonomi yang selalu menyertai perjalanan dunia Islam.[iii]
Dari alasan-alasan di atas suatu pertanyaan pantas diajukan, dapatkah umat Islam akan memetik kesuksesan kembali dalam persinggungannya dengan jaman modern sebagaimana pernah sukses dalam sejarah pertemuan pertama dengan peradaban Helenistik yang begitu gemilang pada abad-abad awal Islam? Apakah jaman modern senantiasa menjadi ancaman atau tantangan bagi dunia Islam? Apakah usaha-usaha dunia Islam untuk bangkit kembali dari tidur pulas tradisionalnya ini belum mampu menampakkan geliat keberhasilan? Apakah usaha-usaha itu programatik, sistemik, dan memiliki visi yang sama di antara dunia Islam yang terpencar-pencar? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang menghinggapi kegelisahan, semangat, dan energi intelektual umat Islam yang segera memerlukan aksi.

Stigma dan Islamophobia
Di tengah-tengah kegelisahan yang belum pulih, dunia Islam digempur oleh berbagai stigma yang negatif dari dunia Eropa dan Amerika beserta sekutunya. Dunia Islam telah lama dianggap sebagai dunia yang penuh intrik, teroris, kebodohan, barbar, penuh darah, dan tidak bisa diatur. Kontrol media Barat dan Amerika atas dunia Islam cukup berhasil menggambarkan potret Islam dalam bentuk stigmatisasi yang sangat sempurna. Hasilnya adalah gambaran buruk-rupa Islam di mata dunia dan bangsa-bangsa modern.
Contoh-contoh tentang buruk-rupa wajah Islam dieksploitasi melalui tokoh-tokoh tiran dari negara Islam, seperti Khadaffy, Saddam Husein, Khumaeni, jaringan Al-Qaedah (Osama bin Laden) dan lain-lain. Tentu, pandangan negatif ini kental dengan sinisme dan stereotipe Barat dan Amerika atas Islam. Ini berarti Islam dikonstrusikan dan dikerangkeng dalam perspektif-perspektif Barat yang penuh kebencian. Obyektivitas pandangan Barat dan Amerika atas dunia Islam tampak dipenuhi oleh pandangan konfliktual dan kental dengan kebencian di masa lalu (misalnya, tragedi-tragedi peristiwa Perang Salib). Jadi, dalam dunia Barat dan Amerika telah dijangkiti penyakit islamophobia, yaitu penyakit kejiwaan yang memandang sesuatu sebagai menakutkan dan karena itu perlu dijauhi bahkan dimusnahkan dari dunia. Perspektif yang sangat ironis ini tentu tidak bisa diharapkan untuk melahirkan pandangan yang jujur, obyektif, dan adil atas dunia Islam. Kejujuran untuk melihat dunia Islam yang adil dan obyektif hanya dimiliki oleh ilmuwan-ilmuwan Barat dan Amerika yang jujur dan memiliki komitmen tinggi pada prinsip-prinsip ilmiah. Kelompok ilmuwan inilah yang sedikit banyak menampilkan citra yang positif. Ini, tentu saja, hanyalah oase dari gempuran tak henti-henti dari hujatan Barat dan Amerika atas Islam.
Serangan paling nyata dan dilakukan secara fisik adalah tindakan militer Amerika dan sekutunya atas Afghanistan tahun 2001 dan Irak tahun 2003. Serangan ini dipicu oleh tragedi 11 September 2001 yang menimpa Menara Kembar WTC (World Trade Centre) dan Pentagon Amerika, yang diduga dilakukan oleh jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Kemudian pada tanggal 12 Oktober tahun berikutnya (2002) ledakan terjadi. Kali ini menimpa kawasan wisata Bali dengan korban hampir 200 ribu jiwa dari berbagai negara. Peristiwa dilakukan oleh jaringan terorisme di Asia Tenggara dan memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Kasus-kasus terorisme ini dengan cepat dan mudah langsung dialamatkan ke umat Islam. Dunia Islam lalu tersentak dengan kenyataan pahit ini. Serangkaian tragedi inilah yang mengilhami serangan Amerika dkk. ke Afghanistan dan Irak, walaupun pendapat ini dibantah oleh mantan menteri keuangan yang dipecat George W. Bush, Paul O’Neill yang menyatakan bahwa Bush sejak awal-awal jabatannya sudah merencanakan serangan militer ke Irak, “Bush melakukan berbagai upaya untuk melaksanakan niatnya menyerang Irak”, kata O’Neill, “Bush bagai orang buta di dalam ruangan yang penuh dengan orang tuli saat memimpin rapat-rapat kabinet”, kata O’Neill selanjutnya. Kesaksian O’Neill seperti ditulis dalam buku The Price of Loyalty karya Ron Suskind menunjukkan bahwa ada ketidakjujuran politik Amerika atas dunia Islam.[iv] Padahal Korea Utara, dan Israel adalah negara-negara yang memiliki senjata nuklir, tetapi poisinya aman-aman saja, mungkin karena mereka bukan bangsa muslim sehingga tidak diserang secara militer.
Karena itu, mudah dipahami bahwa serangan Amerika atas dua bangsa ini—yang kebetulan adalah bangsa Muslim dianggap sebagai serangan terhadap dunia Islam yang dilakukan tidak dengan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan. Terlepas dari alasan yang dibuat-buat Amerika dkk., serangan ini jelas dianggap sebagai kelanjutan dari artikulasi Islamophobia Barat atas Islam. Serangan militer ini terjadi di dunia modern yang sangat menghargai HAM, tetapi kebiadaban Amerika hampir tak ada yang bisa menghentikannya. Maka terjadilah sebuah elegi bagi Umat Islam dengan korban-korban harta, nyawa, dan air mata yang maha dahsat. Belakangan terbukti bahwa alasan Amerika dkk., tidak benar karena senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) yang dijadikan sebagai alasan serangan tidak ditemukan. Kecongkakan bangsa Amerika dkk., lagi-lagi menanamkan investasi kebencian dan ketidakadilan bagi umat Islam.
Hasilnya adalah keterkejutan umat Islam di segala hal dan pada akhirnya memberi kesadaran bagi perlunya sikap bersama umat Islam untuk menghadapi ketidakadilan ini melalui cara-cara diplomasi dan kerjasama secara adil, sekalipun tak bisa ditutup-tutupi bahwa ada kelompok-kelompok yang geram dan putuys asa sehingga melakukan perlawanan secara berlebihan melalui terorisme. Semua usaha itu, dilakukan sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik agama yang dibalut secara tebal oleh dimensi-dimensi ekonomi dan politik. Sikap yang merupakan sikap dominan umat Islam dunia ini tidak berarti tidak kritis pada Barat dan Amerika, tetapi secara diplomatis menjalankan kampanye solidaritas Islam dan perdamaian sebagai pesan Islam untuk seluruh alam. Dunia Islam harus berjuang bersama melawan ketidakadilan untuk selanjutnya membangun kerjasama dengan berbagai peradaban yang ada. Semangat jaman kita adalah semangat membangun atas dasar cahaya etik agama-agama besar dunia yang murni dan sejati, bukan agama yang telah dibungkus oleh kepentingan etnis, kelompok, dan ekonomi-politik.
Dari garis argumen ini, nuktah-nuktah pemikiran dari buku ini diharapkan bisa memberi inspirasi bagaimana memahami kenyataan dari konfigurasi dunia Islam yang berada di bawah bayang-bayang dominasi Barat dan Amerika, dan selanjutnya bagaimana memberi respon yang tepat dan strategis sehingga dunia Islam tidak bergerak dalam lumpur keputusasaan dan ketidaberdayaan yang berkelanjutan tanpa akahir. Melawan kekuasaan yang congkak dan terlalu kuat memerlukan strategi-strategi yang jitu, sehingga perlawanan atau respon dunia Islam lebih terarah, berjangka panjang, dan berkelanjutan dengan energi yang makin kuat.




Catatan Akhir

1Bandingkan dengan tulisan S.M.N. Al-Atas, Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethic and Morality (Kuala Lumpur, 1975).
[ii]Malise Ruth Ven, Islam in the World, Harmondsorth, 1984, hlm. 289
[iii] Situasi ini menyebabkan lahirnya apa yang oleh Fazlur Rahman disebut “neo-fundamentalisme”, yakni kelompok umat Islam yang memiliki kesetiaan penuh dan ikatan emosional yang kuat sekali pada Islam dan sangat menginginkan Islam itu diperkuat untuk menghadapi Barat, selanjutnya Fazlur Rahman mengatakan, “…So far as Islamic learning is concerned, they are dilettantes: indeed neo-fundamentalism is basically a function of laymen, many of whom are professionals—lawyers, doctors, engeneers” lihat Fazlur Rahman, Roots of Islamic –Neo-Fundamentalism,” Dalam Philip H. Stodard, et. al., eds., Change and the Muslim World (Syracuse, Y.N. University Press, 1981), p. 27-28.
[iv] Kompas, 15 Januari 2004 dan Solopos, 14 Januari 2004.

Catatan Akhir

1Bandingkan dengan tulisan S.M.N. Al-Atas, Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethic and Morality (Kuala Lumpur, 1975).
[1]Malise Ruth Ven, Islam in the World, Harmondsorth, 1984, hlm. 289
[1] Situasi ini menyebabkan lahirnya apa yang oleh Fazlur Rahman disebut “neo-fundamentalisme”, yakni kelompok umat Islam yang memiliki kesetiaan penuh dan ikatan emosional yang kuat sekali pada Islam dan sangat menginginkan Islam itu diperkuat untuk menghadapi Barat, selanjutnya Fazlur Rahman mengatakan, “…So far as Islamic learning is concerned, they are dilettantes: indeed neo-fundamentalism is basically a function of laymen, many of whom are professionals—lawyers, doctors, engeneers” lihat Fazlur Rahman, Roots of Islamic –Neo-Fundamentalism,” Dalam Philip H. Stodard, et. al., eds., Change and the Muslim World (Syracuse, Y.N. University Press, 1981), p. 27-28.
[1] Kompas, 15 Januari 2004 dan Solopos, 14 Januari 2004.

Bencana Situ Gintung, perbuatan Tuhan, Manusia, atau Alam?

Oleh: Mudhofir Abdullah

Sekitar pukul 05.00 pagi Jumat, 27 Maret 2009 Tanggul Situ Gintung ambrol dan menelan dua kampung di sekitarnya. Sampai dengan pukul 12.00 korban tewas sekitar 35 orang dan korban hilang lain belum diketahui. Rumah-rumah penduduk ditelan banjir dan sejumlah rumah roboh. Mobil-mobil warga ikut terseret arus air. Korban adalah anak-anak, wanita dan orang tua. Luapan banjir yang mirip tsunami kecil itu menelan korban yang tidak murah. Pertanyaannya, siapa pelakunya? Tuhan, manusia, atau semata-mata alam?
Para pengkhotbah pasti akan menyampaikan bahwa itu musibah karena banyak pendosa yang tidak beribadah kepada Allah. Atau para ecologists akan mengatakan itu akibat ulah manusia yang tidak memerhatikan lingkungan. Sementara orang awam akan bilang, “itu karena alam dan kita kena sial”. Tiga tipologi jawaban itu tak sepenuhnya benar dan perlu dikritisi.
Jika bencana Situ Gintung karena azab atau musibah Allah, mengapa harus menimbulkan korban manusia yang nyawa dan penderitaannya sulit kita bayangkan? Mengapa Allah mendendam kepada hamba-Nya sendiri yang lemah? Mengapa anak-anak yang tak berdosa dan belum mengetahui apa makna dosa dan pahala ikut jadi korban? Mengapa korbannya nenek-nenek yang sebentar lagi mati? Mengapa dan mengapa ini terjadi? Bencana itu, pastilah bukan perbuatan Tuhan, tapi ulah manusia yang tidak memerhatikan lingkungan dan tata ruang penyelamatan lingkungan. Manusia itulah yang menjadi akar-akar penyebabnya? Manusia yang mana? Di lokasi itu banyak pula orang yang baik-baik, tapi jadi korban juga. Lalu pemerintah kota? Atau sejarah alam yang menyebabkan bencana itu?
Saya tidak bisa menjawab tegas semua itu. Tapi saya tegas menolak, bencana itu perbuatan Tuhan karena dendam gara-gara manusia tidak patuh pada-Nya. Saya lebih setuju kalau bencana itu adalah sejenis “kelalaian spesies manusia yang bertanggungjawab pada lingkungan Situ Gintung tapi tidak memeriksa atau menyelidiki seberapa aman lingkungan sekitar. Mengapa tidak ada peringatan seberapa bahaya lingkungan sekitar? Kesalahannya semata-mata pada ketimampuan ketajaman melihat ‘tanda-tanda jaman’ karena terlelap oleh kepuasan pada duniawi. Lalai karena hatinya kafir atau cover (tertutup) untuk mengawasi lingkungannya dari bahaya-bahaya yang mungkin mengancam.
Jangan pula menyalahkan korban (blaming the victim), karena korban-korban itu ada yang baik, ada yang anak-anak, dan orang-orang miskin yang selama hidupnya tertindas oleh ketidakadilan sistem sosial dan politik. Sekali lagi jangan salahkan para korban, jangan salahkan Tuhan, dan jangan salahkan alam. Salahkan manusia-manusia yang lalai pada peringatan-peringatan-Nya. Jadi kelalaian itulah yang menjadi sebab semua bencana, termasuk bencana di Situ Gintung itu.

Kamis, 02 Agustus 2007

ISLAM DAN MASALAH PEMBARUAN

Oleh Mudhofir Abdullah

Hingga sekarang, tidak seluruh umat optimis menatap masa depan peradaban Islam. Hilangnya optimisme ini terjadi sebagian karena fakta-fakta obyektif tentang dunia Islam yang merosot. Sejak persentuhannya dengan abad modern (sekitar sejak abad ke-17), dunia Islam limbung dan gugup mencari cara-cara baru untuk menghadapinya. Respon dan serangkaian strategi pun dibuat melalui pembaruan-pembaruan. Lalu sampai di mana hasilnya hingga kini?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan besar umat Islam sampai sekarang. Kegelisahan ini muncul hampir merata di kalangan umat Islam. Di kalangan kaum Muslim modernis, kegelisahan itu ditunjukkan dalam karya-karya mereka yang mendobrak kebekuan doktrin Islam. Di kalangan Muslim awam, kegelisahan itu muncul dalam bentuk radikalisme agama. Respon dan metode pembaruan seperti apalagi yang harus dilakukan? Kita namapkanya perlu metode pembaruan spesifik yang dapat mendobrak kebekuan dan merengkuh kebangkitan dalam artinya yang luas.

Perlunya metode pembaruan
Pembaruan Islam memerlukan metode. Tanpa metode, sebuah pembaruan tidak akan efektif dan tidak bisa berjalan dengan orientasi-orientasi yang jelas. Metode diperlukan untuk mempertajam perkakas-perkakas analisis dan membuka peta-peta jalan ke arah mana pembaruan akan ditempatkan. Ibarat sebuah peta, metode menunjukkan titik-titik tujuan yang hendak dicapai. Metode, tentu saja, bisa berubah, bersifat dinamis, dan dibuat dengan standar-standar yang dapat dipertanggungjawabkan secara logika, moral, dan juga ilmiah.
Metode pembaruan Islam sepanjang sejarahnya tidak seragam. Metode pembaruan ini muncul sebagai respon kaum elit agama (ulama) atas pelbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Respon ini mengambil bentuk secara berbeda. Ada yang memilih cara-cara moderat, fundamentalis, maupun liberal. Ketiga metode respon ini pun, dengan variannya masing-masing, mengalami perubahan dan dinamika sesuai dengan situasi kesejarahan serta pengalaman yang dihadapi (likulli maqam maqal).
Setiap metode pembaruan digerakkan oleh tokoh-tokohnya sendiri. Tokoh-tokoh inilah yang mewakili gugusan kaum elit yang menggerakkan perubahan-perubahan penting dalam masyarakatnya. Aktivitas kaum elit ini sangat menentukan tahap-tahap perkembangan masyarakat. Mengutip Toynbee, perkembangan peradaban berkaitan dengan karya kreatif kelompok minoritas (gugusan elit) yang harus memikirkan tanggapan yang tepat atas tantangan sosial dan juga mendorong masyarakat memilih alternatif tanggapan yang direncanakannya. Jika elit ini, kata Toynbee lebih lanjut, tidak dapat lagi memenuhi fungsi ini, maka peradaban akan mengalami kemunduran dan selanjutnya kematian.
Demikianlah, para pembaru telah melakukan serangkaian kerja intelektual serius. Dari Muhammad Abduh di awal abad 19 hingga kini pembaruan terus dilakukan. Namun, pengaruhnya belum memperbaiki dunia Islam secara signifikan. Pro-kontra tentang pembaruan Islam terus berlangsung dan ini berjalin kelindan dengan dominasi Barat yang mencengkram kokoh dunia Islam. Alih-alih menemukan metode-metode utama tentang pembaruan Islam yang andal, dunia Islam hustru menghadapi gejolak politik dalam negeri dan isu-isu kemiskinan yang menjerat warganya. Krisis pendidikan, krisis ekonomi, dan krisis-krisis lainnya tergambar dari merosotnya peradaban Islam sejak lebih kurang 200 tahun yang lalu.
Benar bahwa Islam telah mampu melewati (meski dengan perjuangan keras) lima peradaban besar (Yunani, Semit, Persia, India, dan China) tanapa kehilangan identitas kulturalnya, namun kini terasa berat menghadapi dominasi Barat yang unggul dalam semua bidang. Islam dalam persimpangan jalan antara memilih metode tradisionalisme ataukah sekularisme. Modernitas bagi Islam merupakan pengalaman yang sama sekali berbeda dan sulit untuk dihadapi sepanjang sejarahnya.
Kegamanagan Islam pada modernitas bukanlah sesuatu yang ganjil. Hal yang sama juga dialami oleh semua agama, termasuk Kristen dan masyarakat Barat. Modernitas telah menyebabkan institusi-institusi keagamaan harus melakukan redefinisi atas tafsir-tafsir teologis dan peran-perannya di masyarakat yang baru. Modernisme di dunia Muslim muncul sebagai suatu perpaduan dua ideologi Barat: teknikisme dan nasionalisme. Tetapi Barat-Kristen telah selesai menghadapi ini dengan memisahkan agama dari institusi-institusi negara dan keluarga. Inilah yang disebut sekularisme.
Di sisi lainnya, Islam masih bergulat mencari cara-cara baru. Dan pergulatan ini terus berlanjut membentuk siklus yang tak berujung pangkal, hingga kini. Haruskan umat islam menempuh jalan sekularisasi sebagaimana Barat-Kristen? Secara umum akan dijawab tidak. Tetapi secara tidak disadari, sekularisasi telah dipraktikkan sebagian besar masyarakat Islam. Sekularisasi telah menjadi pandangan yang lumrah dan telah dianggap sebagai keharusan total dalam kehidupan modern. Bukan saja oleh negara-negara yang terang-terangan menyebut dirinya sekuler seperti Turki, tetapi juga oleh negara-negara yang secara keras menolak sekularisme.
Sejak Muhammad abduh (1849-1905) mendeklarasikan bahwa Islam dapat direkonsiliasikan dengan pemikiran modern, sejak itu pula terbuka pintu bagi membanjirnya doktrin intelektualisme baru dengan inovasi-inovasi modern. Artinya, seperti dikemukakan Albert Hourani, "Dia bermaksud membangun tembok untuk membendung sekularisme, tetapi ternyata justru menyediakan jembatan yang melapangkan jalan bagi skeularisme. Murid-muridnya belakangan membawa doktrinnya ke arah sekularisme total" (Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age: 1798-1939, 1983:144).
Meski masih diperdebatkan, sekularisasi adalah proses global yang disadari atau tidak kini telah melanda bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia. Sekularisasi adalah ciri dari modernitas. Modernitas berintikan teknologi. Ini berarti urbanisasi dan industrialisasi merupakan keniscayaan dari masyarakat modern yang, tentu saja, telah membawa serta perangkat-perangkat nilai yang sama sekali berbeda. Cara baru, metode baru, respon baru, dan paradigma baru diperlukan agar relevansi agama (baca Islam) dan kehidupan tetap terjaga. Pembaruan Islam adalah salah satunya.
Namun senyampang dengan perubahan-perubahan sosial yang cepat, pembaruan Islam tak lagi memadai untuk merespon cepatnya perubahan-perubahan itu. Pembaruan seperti kehilangan ruhnya dan tak lagi mampu mengejar lagi. Bahkan ada pembaruan atau tidak, tak ada pengaruh. Agama dan kehidupan modern berjalan sendiri-sendiri. Agama tak lagi mampu memandu arah-arah pergerakan masyarakat. Kehidupan lebih banyak dikendalikan oleh pasar. Inilah yang dirasakan umat Islam, kini.
Saya curiga, bahwa jangan-jangan masyarakat Islam secara perlahan tetapi pasti, sedang menjalani tahapan kehidupan sebagaimana dijalani masyarakat Barat-Kristen. Jangan-jangan pilihannya akan jatuh pada "manifesto perceraian agama dari ranah kehidupan publik" (baca: sekularisasi total) dan tidak lagi peduli pada gagasan-gagasan ortodoksi Islam. Jika amatan ini benar, maka dapat dikatakan bahwa pembaruan Islam adalah sama dan sebangun dengan sekularisasi.
Betulkah sekularisasi segala hal sedang terjadi pada masyarakat Muslim dan menjadi metode pembaruan alternatif? Jika sekularisasi adalah pemanfaatan akal untuk mengeksplorasi agama dan sains sebagaimana didefinisikan Cak Nur pada 1970-an, maka ini baik. Tapi jika maksudnya adalah pemisahan struktural dan pengasingan agama serta hilangnya kredibilitas agama pada pengalaman manusia, maka ini berita buruk. Untuk makna yang disebut terakhir, kita harus menemukan strategi penyelamatan melalui strategi kebudayaan, yakni lewat pembenahan total pendidikan Islam. Wallahu a'lamu bil shawab.


Jumat, 20 Juli 2007

Karya-karya Bijak tentang Ecology

Krisis-krisis ekologi kini kian memburuk. Pandangan hidup yang bersifat hedonistik dan materialistik membuat alam dikuras dan dijadikan pelacur. Tingkat konsumsi yang boros dan bermewah-mewah membuat alam kian kedodoran dan berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan. Bencana-bencana yang terus menimpa umat manusia menjadi bukti bahwa alam tak lagi nyaman untuk dihuni. Umat manusia terlepas dari perbedaan agama, bahasa, etnis, dan golongan harus bahu-membahu mencegah kerusakan dan krisis ekologi. Pemanasan global yang akibat-akibatnya mulai terasa harus dicegah dan ini tidak cukup hanya oleh kalangan pemerintahan tetapi yang paling penting adalah umat beragama dengan kekuatan moral dan imannya.
Seruan untuk peduli pada masalah ekologi harus secara terus-menerus diteriakan. Demikian pula ajaran agama harus disajikan dengan konsep-konsep ekologi, sehingga umat menjadi sadar bahwa memelihara lingkungan sama pentingnya dengan beribadah.

Berikut ini saya sarankan untuk membaca buku-buku tentang ekologi yang bisa menggugah getar-getar hati untuk melaksanakannya.
1) Mustafa Abu-Sway "Towards an Islamic Environment: Fiqh al-Bi'ah fil-Islam". Tulisan ini disampaikan di Masjid Belfast Amerika Serikat pada Februari 1998. Karya ini menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang paling komprehensif dalam perhatiannya terhadap masalah-masalah manusia dan lingkungannya. Dia menyajikan ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis untuk menunjukkan bahwa Islam itu peduli pada lingkungan.

2) "Religion and The Order of Nature" karya Seyyed Hossein Nashr.
Meski karya ini tidak secara spesifik bicara soal lingkungan dalam perspektif Hukum Islam, namun muatan kajian dan analisisnya mengacu pada tradisi Islam. Ini bisa dimengerti karena Nasr adalah intelektual Islam yang pemikirannya sangat kental dengan khasanah keislaman sebagaimana ditunjukkan dalam buku-bukunya, termasuk karyanya ini.
Nasr dalam karyanya ini menjelaskan bahwa bumi kita ini sedang mengalami pendarahan hebat akibat luka-luka yang dideritanya akibat ulah manusia yang sudah tidak lagi ramah padanya. Pandangan sekular dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang tercerabut dari akar-akar spiritualitas dan agama, membuat bumi kian mengalami krisis dan terus menghampiri titik kehancurannya. Karena itu, peran agama untuk membantu mengatasinya merupakan sesuatu yang krusial (Lihat Hussein Nasr, 1996:3).

Kamis, 12 Juli 2007

Kearifan Lingkungan

Bencana alam dan bencana-bencana lainnya, sejatinya, tidaklah sepenuhnya karena ulah alam. Manusia ikut berkontribusi, misalnya, karena alpa dan masa bodoh menjaga alam, lingkungan atau tidak mengindahkan isyarat-isyarat dan peringatannya. Alam dan lingkungan dikuasai dan dieksploitasi tanpa pernah secara cermat dan arif dijaga serta dilestarikan. Ibarat pelacur, alam hanya dieksploitasi untuk kesenangan sesaat dan setelah itu ditinggalkan begitu saja. Kearifan untuk mengelolanya dikalahkan oleh nafsu berahi kepuasan egoistiknya. Penguasa, pengusaha, dan sekelompok manusia serakah menggadaikan laut, bumi, hutan dan lingkungan untuk menumpuk harta dan kekayaan. Tak heran jika keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmosnya terganggu dan rusak.

Dari ajaran agama hingga ajaran para filosof menyebutkan bahwa alam semesta adalah sumber kebajikan. Karena itu, manusia disarankan untuk berharmoni dan meniru perilaku alam semesta jika ingin memperoleh keutamaan hidup.

Alam semesta adalah jejak-jejak keagungan Allah dan manusia diperintahkan untuk mengelolanya dengan sebaik-baiknya untuk menimbulkan sebanyak-sebanyaknya kemanfaatan bagi umat manusia. Bertindak culas pada alam semesta adalah sebuah tindakan menggali kuburannya sendiri. "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat ulah mereka sendiri" QS., al-Rum: 41. Adakah bencana beruntun selama ini akibat ulah bangsa dan para pemimpin kita dalam mengelola alam semesta?

Pertanyaan ini harus menjadi renungan bersama. Apalagi bencana datang terus-menerus seperti menyampaikan pesan kekonyolan perilaku kita. Bencana-bencana itu tidak normal dilihat dari sisi logika karena terjadi secara berulang. Makna pembangunan, makna pemerintahan, dan makna kepemimpinan dipertanyakan kembali. Bahkan makna kegairahan beragama dinilai gagal menyadarkan dan mengarahkan manusia pada ketajaman membaca pada tanda-tanda dan isyarat-isyarat alam beserta segenap tanggung jawab pengelolaannya.


Mudhofir Abdullah

Islam dan Masalah Lingkungan

Dalam Islam, ajaran tentang lingkungan sangat berlimpah baik implisit maupun eksplisit. Kata bumi (ardh), misalnya, disebut sebanyak 485 kali dalam al-Qur'an.Belum lagi dalam Hadis. Namun potensi tentang konsep-konsep kepedulian pada lingkungan belum dieksplorasi secara maksimal oleh para intelektual Islam. Sedikit sekali tulisan-tulisan tentang Islam dan Lingkungan dari para ulama. Padahal krisis-krisis lingkungan kian parah. Maqashid al-Syari'ah (yakni, menjaga agama, menjaga, jiwa, akal, keturunan, dan harta) yang diakui sampai sekarang sulit ditegakkan jika lingkungan kian memburuk. Karena itu, urgensi mengembangkan Fiqh al-Bi'ah (Fikih Lingkungan) dalam kehidupan umat sangat penting dilakukan.
saatnya, para ulama dan tokoh-tokoh agama mengubah tema-tema tulisan ke isu-isu lingkungan. selanjutnya menyebarkannya ke semua pemeluk agama. Hal ini dilakukan karena masalah lingkungan tak cukup hanya diatasi dengan seperangkat Hukum dan Undang-Undang, tetapi harus ditopang oleh nilai-nilai etika dan agama. Islam dalam kasus ini sangat potensial untuk menopang keberlangsungan ekologi.
Fikih-fikih klasik hanya fokus pada masalah taharah, pakaian, makanan, dan sejenisnya. Tetapi masalah lingkungan kurang diperhatikan. Ini bisa dimengerti. mungkin dulu masalah lingkungan belum separah sekarang, sehingga kepedulian pada masalah lingkungan tidak spesifik. Bab-bab Fikih perlu ditambah terutama masalah menjaga lingkungan. Bukankah bencana-bencana yang terus menimpa bangsa kita akibat salah kelola lingkungan? bencana-bencana tidak selalu karena alam, tetapi juga karena kealpaan manusia yang menghuni bumi. Hutan gundul, pengerukan pasir, penyalahgunaan tepi pantai, dan lain-lain ikut berkontribusi. Inilah yang perlu mendapat perhatian semua ulama. Fiqh al-Bi'ah adalah sebuah keniscayaan.